Showing posts with label Pameran Senirupa. Show all posts
Showing posts with label Pameran Senirupa. Show all posts

Monday, October 21, 2013

Pameran Seni Grafis Natural Mystic

Agung Prabowo Menjawab Rasa Takut


Oleh Winarto


Family Matters, seni grafis, karya Agung Prabowo
Ketidak-tahuan adalah sumber ketakutan. Ketakutan karena ketidak-tahuan adalah hal manusiawi, dialami oleh hampir semua orang. Kita takut akan gelap, karena kita tidak tahu apa yang ada dalam kegelapan itu. Banyak orang mengalami ketakutan tanpa henti, karena ia tidak pernah berusaha menyimak kegelapan untuk mengetahui apa yang terjadi.
Ketakutan seperti inilah yang dirasakan Agung Prabowo, ketika ia mulai menapaki fase baru dalam perjalanan hidupnya yakni sebagai seorang ayah. Ketakutannya bersumber pada kebutaannya tentang berbagai misteri dan mitos; tentang proses bagaimana seorang janin tumbuh dan berkembang di dalam kandungan, bagaimana sang ibu harus berjuang menghadapi proses kelahiran sang anak. Juga, tentang pamali atau pantangan yang menyertai tumbuh kembang anak.
Ia mengaku takut, karena tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Namun, pada suatu titik, Agung berhasil mengatasi rasa takut karena ketidak-tahuannya itu dengan menumbuhkan keberaniannya untuk mengetahui. Ia tidak ingin sepanjang hayatnya diteror oleh kegelapan. Maka, ia mencoba menyibak apa yang terjadi dalam kegelapan, apa di balik sebuah misteri, sebuah mitos. “Saya coba sikapi dengan mengganti rasa takut dengan rasa ingin tahu,  menggali lebih dalam dan mendasar. Kata kunci yang kemudian saya temukan adalah natural mystic,” ungkap Agung.
            Natural Mystic, karenanya, bagi Agung adalah sebuah jawaban atas rasa takut. Ia adalah eksplorasi akan kegelapan, misteri dan mitos yang banyak menyelimuti dunia sehari-hari kita. Inilah inti yang tampaknya ingin disampaikan Agung melalui karya-karya grafisnya yang dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta,  tanggal 17-27 Oktober 2013.
                                                                                           Permainan Simbol
            Natual Mystic yang menjadi judul pameran ini adalah karya Agung Prabowo berupa 28 fragmen lukisan hasil cetak dengan teknik cukil lino. Kurator pameran, Aminudin TH Siregar, menyebut teknik grafis yang digunakan Agung sebagai cukil habis (reduction-print). Yakni metode cetak yang mampu menghasilkan cetakan bermacam warna dengan memanfaatkan satu plat cetak. Teknik ini pernah digunakan Picasso dalam seni grafis yang dirintisnya tahun 1950an.

Behind The Curtain 10, seni grafis, karya Agung Prabowo
Dengan teknik ini gambar-gambar hasil cetak karya Agung tampak penuh warna. Bukan hanya warna-warna solid, tetapi juga gradasi yang lembut. Hal ini terlihat pada karya-karyanya seperti “Nircintraka”, “Nirbaya Jagratara”, “Family Matters” dan “Don’t Mind the Man Behind The Curtain” yang merupakan satu serial tema terdiri dari 10 fragmen.
Di luar persoalan teknis cetak, tema-tema yang dihadirkan Agung dalam lukisan grafisnya sangat menarik. Agung – yang lebih suka mengenalkan dirinya sebagai Agugn – menggunakan berbagai simbol untuk mengungkap misteri alam. Jendela dengan tirai yang terbuka sering digunakan sebagai bingkai yang mengerangkai berbagai objek di dalamnya. Sepuluh fragmen dalam “Don’t Mind the Man Behind The Curtain” memanfaatkan bingkai jendela dan tirai. Jendela dengan tirai yang terbuka bisa ditafsirkan sebagai hasrat untuk menemukan, keinginan untuk mengetahui lebih banyak, melihat ke luar lebih jauh, atau sebaliknya melihat ke dalam lebih dekat.
 Melalui jendela yang terbuka Agung menghadirkan ketenangan laut yang misterius (“Behind The Curtain 3”),  gunung dan daratan biru dengan langit merah jambu (“Behind The Curtin 8”), dua pasang kaki yang menyeruak dari dalam kamar dengan sebilah pisau di tengah ruang (“Behind The Curtain 10”), atau ruang bawah tanah dan lorong yang dingin (“Behind The Curtain 7”).
Natural Mystic 14, seni grafis, karya Agung Prabowo
Sementara itu, seri fragmen “Natural Mystic” banyak menghadirkan simbol-simbol berupa binatang dan tumbuhan seperti katak, burung, ulat, gurita, kelelawar, ular, buaya, sapi, kucing, bunga bangkai, buah pisang, tangkai tanaman, dan daun. Sosok binatang dan tumbuhan itu umumnya disajikan sebagai objek tunggal di atas bidang gambar, berupa kertas putih buatan tangan, tanpa warna atau bentuk-bentuk lain yang melatarbelakangi. Sehingga sosok-sosok binatang dan tanaman itu justru hadir sebagai bingkai dari objek-objek yang terlukis di dalamnya. “Natural Mystic 30” misalnya, menggambarkan seekor katak dalam posisi mengangkang simetris. Bagian perutnya yang terbuka membingkai dua gunung kembar dan bulan di atasnya. Sedangkan “Natural Mystic 5” menampilakn sosok gurita dengan bentuk-bentik geometris di bagian kepalanya, dan “Natural Mystic 14” berupa seekor kelelawar dengan kedua sayap membentang simetris, membingkai smbol-simbol bulan dan matahari yang terhubung oleh garis putus-putus yang membentuk belah ketupat.
Karya lainnya yang menarik dalam pameran ini yakni “Family Matters” yang menempatkan sosok sebuah keluarga – terdiri dari suami isteri dan seorang bocah – di tengah bidang gambar, dikepung aneka barang yang hadir dalam kehidupan sehari hari seperti mainan anak-anak, perabotan meja, kursi, tempat tidur, perlatan dapur dan pertukangan. Di bagian bawah bidang gambar terlihat dua dahan pohon yang  dipasang di sebelah kanan dan kiri secara simetris, sementara pada bagian tengah tampak sosok sebuah wajah yang terbentuk dari sepasang sendok garpu, piring makan, pisau dapur dan kue-kue coklat. “Family Matters” mengingatkan kita pada misteri kehidupan rumah tangga dengan segala macam problematikanya.
                                                                         Profil Agung Prabowo
            Agung Prabowo lahir di bandung, 8 Agustus 1985, lulus dari Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung (FSRD-ITB) tahun 2010. Pada tahun 2012 Agung memenangkan juara pertama Triennale Seni Grafis Indonesia IV yang diselenggarakan galeri seni Bentara Budaya. Sejak masih kuliah ia aktif mengikuti pameran bersama di berbagai kota di Indonesia dan luar negeri. Pameran bersama yang terakhir diikuti yaitu “Subject Matters: A Locus Collectivism”, Art: 1 gallery, Jakarta, dan “Awagami International Miniature Print Exhibition 2013”, Inbe Art Space, Tokushima, Japan. Pameran “Natural Mystic” di Bentara Budaya Jakarta ini merupakan pameran tunggal pertama baginya. Rencananya, “Natural Mystic” juga akan digelar di Jogja, Soilo dan Bali.                              
           
 Tulisan sebelumnya:







Wednesday, August 28, 2013

Tragedi Drupadi di Tangan F Widayanto

Pameran Patung Keramik Pandawa Diva

Oleh Winarto

"Dru vs Dur", patung keramik F Widayanto
Sosok perempuan muda jelita itu begitu menderita, berusaha mempertahankan kain penutup tubuhnya yang coba dibuka dan ditarik oleh seorang lelaki berwajah dingin dan kejam. Perempuan itu tak lain dari Wara Drupadi, putri Prabu Drupada, Raja Pancala. Drupadi dijadikan taruhan oleh suaminya, Yudhistira, dalam permainan dadu dengan Korawa. Malang, Yudhistira kalah main dadu, sehingga Drupadi jatuh ke tangan Korawa. Dursasana, salah seorang anggota Korawa, mencoba menelanjangi Drupadi. Namun, keajaiban terjadi. Kain penutup tubuh Drupadi ternyata terus memanjang, meski Dursasana berusaha menariknya tanpa henti. Sehingga tubuh Drupadi tetap terbalut kain dan kesuciannya tetap terjaga. Sedangkan Dursasana akhirnya pingsan karena kelelahan.

Atas perlakuan itu, Drupadi bersumpah tidak akan mencuci rambutnya yang sempat dijarah Dursasana, sampai Dursasana mati dalam perang Baratayudha. Ia akan menggunakan darah Dursasana untuk mandi keramas. Kelak, dalam perang Baratayudha antara Pandawa dan Kurawa, Dursasana terbunuh oleh Bima, salah seorang kstaria Pandawa.

Kisah Drupadi adalah kisah tragedi tentang kesetiaan dan dendam seorang perempuan. Drupadi, puteri seorang raja, tidak dilahirkan dari rahim seorang ibu, melainkan dari seberkas cahaya hasil puja-samadi sang raja. Karena itu, kelahirannya adalah sebuah berkah, tak heran bila kecantikannya luar biasa. Sebagai seorang isteri, ia begitu setia kepada sang suami. Namun, justru ia dipertaruhkan dalam ajang permainan judi.

Dalam kisah Mahabarata, setelah sumpahnya mandi keramas dengan darah Dursasana terwujud dan perang Baratayudha berakhir, Drupadi bersama sang suami,Yudhistira, mati muksha – hilang bersama jasadnya – menuju ke hadirat Sang Maha Pencipta.

                                                                                         Drupadi Pandawa Diva
Kisah tragik Drupadi telah mengilhami pematung keramik kenamaan, F Widayanto, menggelar pameran yang menyuguhkan sosok Drupadi dalam berbagai wujud. Pameran bertajuk “Drupadi Pandawa Diva” yang digelar di Galeri Nasional, 22-30 Agustus 2013, sekaligus merayakan 30 tahun ia berkarya. Pameran menghadirkan 30 patung Drupadi dalam berbagai pose, warna dan ukuran.

"Ukel Ambyar", patung keramik F Widayanto
Begitu masuk ruang pamer  utama di Galeri Nasional kita akan disambut dengan sosok Drupadi yang dipasang di bawah cahaya terang. Kulitnya putih – tidak kehitaman seperti dikisahkan dalam pewayangan – dengan wajah menengadah dikelilingi kelopak bunga melati yang bergelantungan. Patung setinggi sekitar satu setengah meter itu diberi judul “Drupadi Agni” (Drupadi Api) seolah menggambarkan asal kehidupan Drupadi dari seberkas cahaya api.

Pada bagian dalam ruangan, tata cahaya dibuat temaram, membuat sosok-sosok Drupadi terperangkap dalam keremangan. Adegan paling dramatik dalam kisah Drupadi diwujudkan dalam patung “Dru Vs Dur” yang menggambarkan upaya Dursasana menelanjangi Drupadi dengan menarik kain Drupadi. Melalui karyanya ini, Widayanto berhasil melukiskan moment paling gelap dalam perjalanan hidup Drupadi. Jeritan hati dan amarah Drupadi terlihat jelas pada raut wajahnya berhadapan dengan sosok Dursasana yang dingin dan kejam.

Beberapa karya lain yang sangat kuat menggambarkan penderitaan Drupadi yaitu “Kebrugan Jagad” (Kejatuhan Dunia) dan “Bedhah Nelangsa” (Meluapkan Derita). Pada dua karya ini sosok Drupadi begitu kuyu, duduk di lantai dengan kaki berselonjor, rambut acak-acakan. Sejumlah mata dadu berserakan di sekitar tubuhnya. Kulit tubuh Drupadi juga berwarna gelap sebagaimana dalam kisah Mahabarata.

Sementara, pada sebagian besar karya lainnya F Widayanto tampak mengeksplorasi kecantikan wajah dan kemolekan tubuh Drupadi. Ini terlihat antara lain pada “Pandawa Diva”, “Ukel Ambyar”, Ngore Ngecucung”.

                                                                                              Eksplorasi Tradisi
Fransiscus Widayanto yang lahir di Jakarta, 23 Januari 1953, adalah lulusan Seni Rupa ITB. Mulai karirnya sebagai seniman keramik pada tahun 1983 dengan mendirikan studio keramik Maryans Clay Work. Ia dikenal sebagai seniman keramik yang suka mengeksplorasi tradisi dalam karya-karyanya. Beberapa karya patungnya yang cukup dikenal yaitu Loro Blonyo (1990), Golekan (1997), Dewi Sri (2003) dan Fantastic lady (2005).

Karya-karyanya diminati oleh para kolektor tidak hanya dari dalam negeri, namun juga dari luar negeri antara lain  Raja Yordania dan butik terkenal dari Prancis, Hermes.

Tuesday, August 27, 2013

Romantisme Perjuangan Dalam Lukisan Augustin Sibarani

Oleh Winarto

"Laskar Bambu Runcing", lukisan Augustin
Sibarani
LEBIH dikenal sebagai karikaturis yang sangat tajam menyampaikan kritik sosial, Augustin Sibarani ternyata juga mampu menuangkan gagasan dan imajinya secara ekspresif dalam lukisan cat minyak  di atas kanvas. Selama satu minggu, 22-29 Agustus 2013, 40 karya lukisnya dipamerkan di Bentara Budaya Jakarta. Pameran bertajuk “Lukisan Augustin Sibarani 1973-2013” ini sangat pas dihadirkan saat ini ketika masyarakat Indonesia baru saja memperingati hari kemerdekaan negerinya. Juga, di tengah karut marut perpolitikan di tanah air, karya-karya Sibarani bisa menjadi sarana untuk berkaca bagi kita sebagai suatu bangsa.
Dalam sebagian besar karyanya yang dipamerkan di sini, Sibarani ingin mengungkapkan bahwa kemerdekaan yang kita nikmati saat ini adalah hasil perjuangan panjang dan sarat pengorbanan. Sehingga, tidaklah etis apabila buah pengorbanan luar biasa besar itu hanya dijadikan mainan elite-elite politik untuk kepentingan mereka sendiri. Lewat karya-karyanya, Sibarani hendak mengingatkan bahwa masih banyak problem sosial yang menuntut perhatian para pemimpin negeri ini.
                                                                             Romantisme Masa Perjuangan
Dari 40 lukisannya yang dipajang di dua ruang pamer Bentara Budaya Jakarta sekitar 15 diantaranya menggambarkan suasana perjuangan merebut kemerdekaan RI. Sibarani yang pernah ikut berjuang dengan mengangkat senjata ini berhasil merekam romantisme masa perjuangan dan melukiskan secara ekspresif dengan goresan kuasnya di atas kanvas.
Lihat misalnya, lukisannya “Laskar Bambu Runcing” yang menggambarkan seorang lelaki pejuang. Tubuhnya tampak kekar, tangan kanannya memegang kuat senjata bambu runcing, sementara tangan kirinya terbalut perban dengan bercak darah. Di dada kirinya tertempel pin bendera merah putih. Tatapan matanya sangat tajam memandang ke depan. Lukisan ini mampu menghadirkan karakter sosok pejuang kemerdekaan yang dengan senjata tradisional tanpa rasa takut melawan penjajah.
Romantisme masa perjuangan dilukiskan dalam beberapa karyanya antara lain “Markas Gerilya” yang menggambarkan para anggota laskar Indonesia di markas mereka di tengah hutan. Beberapa orang tampak sedang menyalakan tungku untuk memasak, beberapa laskar perempuan merawat anggota laskar yang terluka, sedangkan yang lainnya berjaga memegang senjata, dan seseorang memegang gitar. Suasana yang mirip juga terdapat pada lukisan “Mengelilingi Api Unggun” dan “Istirahat Bakar Jagung”.
"Mengelilingi Api Unggun", lukisan Augustin Sibarani
Keakraban antara para pejuang dengan warga sipil dilukiskan dalam karyanya “Memberi Makan Prajurit” dan “Terluka di Saat Gerilya/Wanita Penolong”. Pada “Memberi Makan Prajurit” digambarkan seorang tentara yang tengah menikmati makanan yang diberikan dua orang penduduk desa. Sedangkan karyanya “Terluka di Saat Gerilya” memperlihatkan dua orang perempuan tengah menolong seorang pejuang yang terluka.
Sibarani memberi perhatian cukup besar pada peran perempuan dalam masa perjuangan. Pada beberapa lukisannya tentang para pejuang ia menunjukkan keberadaan para wanita baik sebagai perawat, juru masak, dan bahkan juga sebagai anggota laskar yang ikut mengangkat senjata. Hal ini misalnya terlihat pada lukisannya “Laskar Wanita Membidik Tank”.
                                                                                                     Kritik Sosial
            Sebagai seorang karikaturis, Augustin Sibarani sangat disegani oleh penguasa karena kritik-kritik sosialnya yang tajam dalam gambar-gambar karikaturnya. Berbeda dari masa Presiden Soekarno, Sibarani sangat disanjung dan dikatakan sendiri oleh Bung Karno sebagai karikatur hebat yang pernah dimiliki Indonesia, di masa Presiden Soeharto Sibarani diberangus, karya-karya karikaturnya tidak bisa diterbitkan di media umum. Karena pembatasan-pembatasan yang diterimanya, Sibarani mulai mengeksplor kemampuannya dalam seni lukis yang oleh penguasa dinilai tidak terlalu berbahaya dibanding karikatur. Tapi, selama Orde Baru ia tetap saja tidak boleh memamerkan hasil karya lukisnya. Hal itu karena penilaian pemerintah Orde Baru yang menganggap pelukis kelahiran Pematang Siantar terlalu dekat dengan kelompok ideologi kiri.
            Jejak karikatural dengan muatan kritik sosial dan humor memang tampak pada sebagian lukisan Sibarani. Diantaranya ikut dipajang dalam pameran kali ini yaitu “Lahir Di Bawah Kolong”, “Penyanyi Di Luar Pagar” “Pengamen Berulos”,  dan “Catur Tidak Seimbang”.
           
"Pengamen Berulos", lukisan Augustin
Sibarani
“Lahir Di Bawah Kolong” menggambarkan sebuah keluarga gelandangan dengan seorang bayi yang baru saja dilahirkan di sebuah kolong jembatan. Sedangkan “Penyanyi di Luar Pagar” melukiskan sekelompok pengamen yang bernyanyi di depan sebuah rumah yang berpagar kawat berduri  dan sebuah tanda bergambar kepala anjing – tanda yang biasa dipasang di pagar rumah-rumah mewah untuk menunjukkan bahwa ada anjing galak di rumah itu, guna menakut-nakuti pengamen dan peminta-minta. “Pengamen Berulos” juga mengambarkan sekelompok pengamen, satu diantaranya adalah seorang bocah yang bertugas memegang topi untuk menerima koin uang dari warga. Lukisan-lukisan ini menunjukkan kepedulian Sibarani kepada kelompok warga strata bawah dan yang terabaikan oleh kekuasaan.
            Lukisannya “Catur Tidak Seimbang” menunjukkan permainan catur antara seorang bocah melawan seorang lelaki dewasa. Si bocah digambarkan begitu sedih melihat papan catur, sementara si lelaki dewasa digambarkan begitu santai menikmati permainan sambil menenggak minuman dan sebatang rokok di tangannya. Tubuh lelaki itu kelihatan begitu kekar, besar, mengenakan dasi dan jaket rangkap.  Sementara si bocah terlihat begitu kecil dan rendah di hadapan sang raksasa. Di sekitar mereka terdapat beberapa orang menonton permainan catur mereka, beberapa diantaranya mentertawakan si bocah malang. Lukisan ini bisa ditafsirkan sebagai gambaran tentang banyaknya ketimpangan sosial dan ketidak-adilan politik di tanah air.
                                                                                           Lukisan Sisingamangaraja
           
"Sisingamangaraja XII", lukisan
Augustin Sibarani
Karya Sibarani yang sangat fenomenal adalah lukisannya yang berjudul “Sisingamangaraja XII”. Lukisan yang juga dipamerkan ini memiliki sejarah unik dan menarik. Awalnya ketika masyarakat Batak memimpikan seorang pahlawan sebagaimana rakyat Aceh memiliki Tjut Nya Dien dan Teuku Umar, masyarakat di Jawa dengan Pangeran Diponegoro, atau warga Maluku dengan Patimura-nya. Merekapun mengusulkan kepada Presiden Soekarno agar mengangkat Sisingamangaraja XII sebagai pahlawan nasional.
            Sibarani yang mendapat kepercayaan melukis Sisingamangaraja tak menemukan dokumen apapun yang menunjukkan wajah tokoh yang hidup pada akhir abad ke 19 itu. Maka iapun mereka-reka wajah Sisingamangaraja berdasar keterangan dari ketuturunan Sisingamangaraja dan mereka yang mengenal sosok pahlawan itu. Wajah Sisingamangaraja akhirnya berhasil ia bangun dan lukiskan dalam kanvas. Lukisan itu kemudian dipasang di Istana Presiden dan dijadikan gambar pada uang kertas pecahan seribu rupiah. Sibarani sempat menggugat Bank Indonesia karena penggunaan lukisannya itu tanpa meminta ijinnya.
            Bisa dikatakan, Sibarani adalah ‘penemu’ wajah Sisingamangaraja. Lukisannya itu akan menjadi peninggalan paling berharga dan abadi darinya. Augustin Sibarani lahir di Pematang Siantar, Sumatera Utara, pada 25 Agustus 1925. Kini ia tinggal di kawasan Cinere, Jakarta Selatan, bersama salah seorang puteranya.


Sunday, May 12, 2013

Meta Amuk, Seni Sebagai Kritik Sosial

Oleh Winarto

"Space", video instalasi, karya Wahyu Utami
Sosok perempuan dengan pakaian tradisional Jawa itu muncul dari dasar kolam, badannya telentang di permukaan air, lalu melakukan beberapa gerakan salto dan kembali hilang di kedalaman. Tak berapa lama, ia kembali muncul ke permukaan, melakukan gerakan yang sama dan kembali hilang. Menyaksikan tayangan video ini selama beberapa menit, nafas kita akan tertahan karena ikut merasakan penderitaan sosok perempuan tersebut, yang terus melakukan gerakan yang sama berulang-ulang keluar masuk ke dalam air  tanpa kesudahan.

Video instalasi berjudul “Space” karya Wahyu Utami dengan cerdas berhasil menggambarkan ruang gerak perempuan tradisional yang sangat terbatas dalam kehidupan sosial. Mereka hanya bergerak dalam kehidupan yang rutin, monoton, tanpa jeda dan variasi, terpagari berbagai keterbatasan: tradisi, budaya, ekonomi dan politik.

Tayangan video ini amat menarik, bukan hanya kontennya, tapi juga penyajiannya secara keseluruhan. Layar monitor dengan luas 1,5 x 2 meter ditaruh di lantai, menghadap ke atas, dibatasi dinding  sekeliling setinggi sekitar 20 sentimeter, sehingga menyerupai bangunan kolam renang. Ketika menonton video ini, kita seperti berada di sisi kolam renang dan menyaksikan langsung sosok perempuan berenang. Di tengah keheningan suasana ruang pameran, suara air kolam dalam tayangan video terdengar sangat rismis dan menyimpan misteri.

“Space” adalah salah satu dari 115 karya lukisan, patung dan instalasi yang disuguhkan dalam Pameran Senirupa Nusantara 2013 di Galeri Nasional, 8-24 Mei 2013. Karya-karya yang dipajang di tiga ruang pamer Galeri Nasional ini adalah hasil seleksi ketat dari karya para seniman di 25 propinsi di tanah air.

Dua orang kurator pameran Kuss Indarto dan Asikin Hassan menyodorkan tema “Meta Amuk” yang berupaya menghadirkan karya senirupa dalam relasinya dengan kondisi sosial masyarakat.

“Senirupa selain sebagai ekspresi pribadi juga berperan dalam menggagas perkara sosial kemasyarakatan dalam cakupan lebih luas. Pameran ini berhasrat menggali ide-ide para seniman dalam menanggapi persoalan dunia dan tradisi kritik sosial yang melekat dalam budaya di Nusantara,” ungkap Kuss Indarto dalam catatan kuratorialnya.

                                                                                       Masalah Gender dan Ketertinggalan

"Beauty Ailing", lukisan Ugy Sugiharto
Dari sekian banyak karya, “Space” cukup kuat menjawab tantangan yang disodorkan kurator terkait tema pameran. Wahyu Utami menafsirkan “amuk” dalam konteks masalah gender. Problem perempuan yang dalam budaya tradisional masih terbelenggu berbagai keterbatasan.

Senada dengan Wahyu Utami, Ugy Sugiharto juga mengangkat masalah keperempuanan. Melalui lukisannya, “Beauty Ailing” Ugy menghadirkan sosok perempuan muda, cantik, namun telanjang dan hanya diam terperangkap dalam belitan lumpur. 

Sementara, Achmad Sobirin berbicara tentang keterbatasan dan ketertinggalan. Melalui karyanya “Merebut Seruling Tetangga” Sobirin menggambarkan dua orang penduduk desa di tengah hutan dan seorang bocah sedang berselisih berebut seruling. Lukisan ini mengingatkan kita pada masyarakat pedesaan umumnya dan suku-suku asli yang tertinggal atau ditinggalkan oleh mesin pembangunan negara.

                                                                                       Politik dan Korupsi
"Merebut Seruling Tetangga", lukisan Achmad Sobirin
Masalah lain yang banyak digugat para perupa dalam pameran ini yaitu menyangkut hiruk pikuk di dunia politik, korupsi dan kekerasan yang masih sering terjadi di tanah air. Beberapa karya tentang hal ini cukup menarik dengan menampilkan unsur-unsur simbolik. Antara lain karya Gigin Ginanjar, “Bocor” yang melukiskan selembar baju perempuan (tank top) yang berlumur darah dan tertancapi belasan benda-benda tajam. Juga, lukisan “Selalu Ada Api” karya Hasan yang mengingatkan kita akan  ancaman kekerasan dan konflik yang terus menghantui kita selama ini.

Hiruk pikuk di dunia politik tergambarkan melalui karya Sugihartono, “Album Reformasi”. Karyanya menggunakan media pena di atas kertas sebanyak 46 lembar dan dipajang dalam panel seluas 200 x 244 cm, berupa sketsa dan coretan-coretan yang merekam berbagai aksi-aksi unjuk rasa dan kekerasan dalam masa perjuangan Reformasi.

Sementara, beberapa karya tentang korupsi mengambil simbol-simbol yang sangat klasik: babi sebagai binatang yang dianggap rakus dan tikus binatang pengerat yang  disimbolkan sebagai para elite politik yang korup.

Secara keseluruhan Pameran “Meta Amuk” berhasil menyampaikan satu pesan kunci: bahwa seni bukan semata-mata untuk seni. Ada tugas dan fungsi lain, yaitu seni sebagai kritik sosial.


Thursday, March 21, 2013

Pameran Lukisan Aris Budiono



Perang Suci Seni Melawan Korupsi

Oleh Winarto

 

"Hanoman Samurai" lukisan karya Aris Budiono
ARIS Budiono Sadjad  benar-benar murka. Pelukis kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 1960 ini marah luar biasa menyaksikan membuncahnya kasus-kasus korupsi di tanah air. Perilaku korup di negeri  ini sudah mirip sel kanker yang merayapi hampir seluruh bagian tubuh bangsa ini. Karena itu perlawanan terhadap korupsi haruslah total untuk bisa mengangkat hingga akar sel-sel yang mematikan itu. Perang melawan korupsi tak lain dari tindakan jihad: sebuah perang suci!

Pemikiran seperti itulah yang tampaknya mendasari perupa lulusan Sekolah Tinggi Senirupa Jogjakarta ini yang  menggelar pameran tunggalnya dengan judul “Perang Suci Melawan Korupsi”.  Pameran berlangsung  di Bentara Budaya Jakarta tanggal 14-23 Maret 2013.
                  
Sekitar duapuluh buah lukisannya menunjukkan amarah Aris yang meluap-luap terhadap korupsi. Ia menggambarkan para koruptor dengan metafor berupa babi yang kita kenal sebagai binatang rakus dan kotor.

Babi Versus Ksatria

"Bima Banting" lukisan karya Aris Budiono
Ia menggambarkan babi dalam wujudnya yang utuh sebagai binatang maupun dalam sosok-sosok bertubuh manusia dengan kepala babi. Ia juga mengambil  tokoh-tokoh dari dunia pewayangan untuk melakukan aksi perang suci melawan korupsi. Jadinya, sangat menarik: para ksatria dunia pewayangan seperti Bima dan Hanoman bertempur melawan sosok-sosok tambun berwujud babi atau manusia berwajah babi.

Lukisannya yang berjudul “Hanoman  Storm Fury” misalnya, menggambarkan bagaimana ksatria berwujud seekor kera putih itu menghajar beberapa ekor babi dengan pukulan halilintarnya yang maha dahsyat. Terasa sekali, betapa sang pelukis ingin menunjukkan kegeraman tak tertahan terhadap para koruptor. Sedangkan lukisannya “Hanoman Samurai” menggambarkan Hanoman mencabik perut seekor babi dengan sebilah samurai.

Hanoman yang dalam pewayangan merupakan pahlawan besar yang mampu mengalahkan raksasa berkepala sepuluh (Dasamuka) dalam lukisan-lukisan Aris benar-benar didudukkan sebagai sang eksekutor terhadap perilaku korup. Lukisannya yang lain berjudul “Hanoman Punishment menunjukkan sosok Hanoman memegang senjata laras panjang siap mengeksekusi sosok-sosok berwajah raksasa simbol angkara murka.

Selain Hanoman, Aris menampilkan kstaria Pandawa yaitu Bima yang juga dilukiskan sebagai sang esksekutor. Dalam karyanya “Bima Banting” digambarkan Bima membanting seekor babi. Dari mulut babi yang terjungkal keluar berbagai barang yang sebelumnya ditelannya seperti mobil, motor,  kapal dan property. Nafsu serakah dan rakus sang babi yang menelan apa saja juga dia gambarkan dalam karyanya “Omnivora”.  

Aris benar-benar sedang mengamuk. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa amarahnya terhadap korupsi. Namun sikap amuknya itu sekaligus juga menunjukkan kegelisahan dan sedikit putus asa. Hal itu tergambar antara lain dalam karyanya “Super Sakti” yang melukiskan sosok manusia bertampang babi duduk sambil berkacak pinggang mengendari seekor babi. Ia tanpa rasa takut menghadapi serbuan anak panah dari para ksatria. Lukisan ini mengingatkan kita pada sejumlah kasus korupsi besar yang tidak pernah berhasil diungkap tuntas oleh lembaga-lembaga penegak hukum termasuk KPK.

"Empat Cakil Rakyat" lukisan karya Aris Budiono
Beberapa lukisan lainnya bernada satir. Lihat misalnya  karyanya  “Empat Cakil Rakyat” yang memperlihatkan empat sosok berwajah raksasa yang dalam pewayangan disebut “Buto Cakil” mengendarai empat ekor babi. Di latar belakang tampak bangunan gedung-gedung tinggi. Judul lukisan ini yang menggunakan kata “Cakil Rakyat” mendorong kita mengingat kata yang mirip yaitu “Wakil Rakyat”. Agaknya Aris Budiono memang sengaja ingin menyindir para wakil rakyat yang sebagian anggotanya berperilaku seperti “Buto Cakil” yang haus kekuasaan dan harta.

Seni sebagai kritik sosial

Sebagai media hiburan, seni sekaligus juga bisa menjadi sarana kritik sosial, bahkan medan perjuangan melawan  kekuasaaan yang menindas atau korup. Sejarah seni di tanah air menunjukkan keterlibatan intens para seniman di berbagai bidang dalam perjuangan melawan politik korup. Di bidang sastra kita memiliki Rendra yang dengan puisi-puisinya serta pentas teaternya sempat membuat keder rezim otoritarian Orde Baru. Juga kita kenal beberapa kelompok teater lain seperti Gandrik, Gapit dan Koma yang tanpa lelah mengusung tema-tema perlawanan terhadap kekuasaan. Di bidang musik kita dapati sosok Iwan Fals dengan lirik-lirik lagunya yang sarat kritik sosial.

Seni lukis pun potensial untuk menjadi medium kritik sosial dan politik. Peran inilah yang secara sadar dilakoni oleh Aris Budiono.

Tindakan korupsi yang kini merajalela di tanah air sudah mengancam eksistensi bangsa, mempengaruhi hidup matinya negeri ini. Perlawanan terhadap korupsi karenanya juga merupakan perlawanan hidup atau mati. Perlawanan yang perlu melibatkan banyak pihak melalui berbagai sarana dan media, tak terkecuali media seni termasuk seni lukis.





Sunday, December 16, 2012

Metamorfosis Lukisan Made Djirna



Dari Ekspresionisme ke Dekoratif


Oleh Winarto


Bahtera Nuh (2012) by Made Djirna
Melihat lukisan-lukisan I Made Djirna yang dipamerkan di Galeri Nasional Jakarta, bulan November lalu, kita seperti dibawa ke dunia penuh warna. Dari sekitar duapuluh lukisan yang digelar hampir separuh dibuat dalam ukuran raksasa, rata-rata memiliki panjang 4 sampai lima meter dan lebar 2 meteran. Hal ini mengingatkan kita pada lukisan wayang beber. Selain ukurannya yang besar,  juga karena lukisannya yang bergaya dekoratif dan menggambarkan sejumlah objek yang masing-masing hadir dengan narasi tersendiri.

Ini bisa dilihat misalnya pada lukisan-lukisannya yang berjudul Rama Shinta (2011), Bahtera Nuh (Noah’s Ark) (2012), Lubang Emas (The Golden Hole) (2012), Cerita (the Story) (2012), Rimba (The Forest) (2011) dan Metamorfosis (Metamorphosis, 2012)

Pada Lubang Emas (200x400) cm misalnya kita bisa menyaksikan figur-figur manusia ataupun binatang yang masing-masing berada dalam kelompok-kelompok dan terjebak di dalam lobang-lobang dengan narasi tersendiri. Demikian pula pada Rimba (the Forest) (295x485) cm kita bisa membangun sejumlah kisah berdasar gambar aneka figur manusia, binatang maupun tumbuhan yang  dipaparkan di atas kanvas.

Ekspresif

I Made Djirna, lahir pada tahun 1957 di Ubud, Bali. Lukisan-lukisannya selama ini dikenal sangat ekspresif, spontan, dan cenderung muram. Warna-warna gelap, coklat atau biru kehitaman merupakan warna-warna favoritnya.

Full of Drinks (2009) by Made Djirna
Jim Supangkat, kurator pameran, mengungkapkan, lukisan-lukisan Made Djirna sangat dipengaruhi memori masa kecilnya tentang tanah kelahirannya yang dilanda bencana. Pada 1963 gunung Agung di Bali meletus, mengakibatkan kawasan Ubud hancur, perekonomian macet. Bencana kelaparan pun terjadi.

Kenangan masa kecil yang muram itu ternyata cukup lama mengendap dan mempengaruhi pilihan eksepresi karya-karya Made Djirna, dari awal karirnya tahun 1980an hingga awal dekade 2000. Dalam pameran kali ini, karya-karyanya yang ekspresif dan muram terwakili oleh beberapa lukisannya antara lain Mengenang Piramid  (To Reminisce about Pyramid, 1994) dan Kabut Hitam (Black Fog, 1994).

Dekoratif

Mulai tahun-tahun akhir dekade 2000, lukisan-lukisan Made Djirna mengalami metamorfosis mengarah pada bentuk-bentuk dekoratif. Pilihan warna-warnanya pun tak lagi didominasi warna-warna gelap dan muram, melainkan cerah dan beragam. Metamorfosis ini dinilai oleh Hermanto Soerjanto dari GarisArt Space, penyelenggara pameran, sebagai tanda perkembangan pemikiran Made Djirna yang semakin bijak.

Meskipun menggunakan teknik dekoratif dan berkesan lembut, lukisan-lukisan Made Djirna tetap kuat menyuguhkan kritik-kritik sosial. Lihat misalnya, karyanya Gajah Genit (Flirty Elephant, 2012). Di sini Djirna mencoba menggambarkan kerusakan lingkungan akibat keangkuhan kekuasaan.

Sedangkan karyanya Full of Drinks (2009) Djirna menggambarkan sosok kepala manusia dalam ukuran besar yang di dalamnya penuh botol-botol minuman dan figur-figur manusia dalam berbagai pose tak beraturan seperti orang mabok. Di luar kepala yang berukuran besar masih terdapat beberapa sosok kepala dalam ukuran lebih kecil, nyaris tenggelam di dalam lautan botol-botol minuman yang memenuhi seluruh bidang kanvas. Agaknya Djirna ingin memotret realitas kehidupan sebagian masyarakat yang tak sadar diri, putus asa dan menenggelamkan diri dalam minuman keras yang memabokkan. Sebuah situasi anomi.

Produktif

Lulusan Istitut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta, 1981, ini termasuk seniman yang sangat produktif. Sepanjang karirnya, ia aktif menyelenggarakan pameran di berbagai daerah di Indonesia dan di luar negeri. Antara lain di Singapura, Australia, Kanada, Amerika dan Swiss. Sejumlah penghargaan pernah diraihnya antara lain Lempad Prize untuk lukisan terbaik dari Sanggar Dewata Indonesia, Jogja, 1982, dan Pratisara Affandi Adhi Karya dari Akademi Senirupa Indonesia, Jogja, 1983.
 

Sunday, April 15, 2012

Kekuatan Lukisan Cat Air


Pameran Asian Watercolour Expression 2012


Oleh Winarto


DIBANDING lukisan cat minyak, lukisan cat air selama ini tampak kalah pamor. Tidak hanya di mata masyarakat awam, namun juga di kalangan para artis sendiri dan kolektor, lukisan cat air dianggap lebih rendah derajatnya dibanding lukisan cat minyak. Hal ini agaknya berkaitan dengan beberapa ‘keterbatasan’ pada lukisan cat air.

Pertama, lukisan cat air biasanya hanya dilakukan di atas kertas, yang secara fisik memang kurang tahan lama dibanding kanvas yang merupakan medium utama cat minyak. Ukuran lukisan cat air juga relatif kecil sesuai ketersediaan ukuran kertas. Hal ini oleh sementara artis dirasa membatasi ruang ekspresi mereka.

Selain itu, secara teknis melukis menggunakan cat air lebih sulit karena harus dilakukan dalam waktu singkat mengingat sifat cat air yang cepat kering. Hal ini berbeda dari melukis menggunakan cat minyak yang bisa dilakukan selama berhari-hari bahkan beberapa bulan. Karena beberapa alasan ini tak banyak pelukis yang menggeluti teknik cat air.

Padahal, di luar ‘keterbatasan’ tersebut sesungguhnya cat air mempunyai sejumlah kelebihan dibanding medium cat minyak. Cat air menghadirkan warna-warna transparan yang kaya dan imajinatif. Sifat transparan media lukis berbasis air dimanfaatkan para artis untuk mencipta gradasi warna yang menarik. Di tangan artis yang berpengalaman cat air menawarkan sangat banyak kemungkinan eksploratif.

Pameran Asian Watercolour Expression

Kekayaan eksplorasi warna menggunakan cat air terbukti dalam karya-karya yang dipamerkan dalam “Asian Watercolour Expression 2012” yang diselenggarakan Indonesian Watercolour Society (IWS). Dalam pameran di Bentara Budaya Jakarta, tanggal 5-14 April 2012 ini dipajang sekitar seratus lukisan cat air karya para seniman sejumlah negara yaitu Indonesia, Malaysia, Thailand, Myanmar, China, Korea Selatan dan Jepang.

Permainan gradasi warna yang menarik antara lain terlihat pada karya Phunsee Srisuphar dari Thailand, “Morning Time” (2010), atau karya Sangkom Somboonhua juga dari Thailand, “Phya Naak” (King of Nagas) (2012), dan karya Min Wae Aung (Myanmar), “Towards Monastery” (2012). Pada “Morning Time” Phunsee Srisuphar warna-warna biru, hijau dan kuning saling membaur sangat lembut menghadirkan suasana kebekuan pagi yang mulai mencair. Gradasi warna seperti ini kiranya susah diperoleh bila menggunakan cat minyak.

Sedangkan pada “Phya Naak” (King of Nagas) karya Sangkom, gradasi warna mampu membangun kesan gerak dinamis sang naga. Sementara, Min Wae Aung dalam “Toward Monastery” berhasil menghadirkan keagungan yang misterius pada sosok lima orang biksu melalui gradasi warna coklat, kuning putih.

Tak kalah dari cat minyak, medium cat air juga mampu menorehkan detil secara menakjubkan. Hal ini terlihat antara lain pada “Bed of Leaves” (2011) karya Elizabeth Que Bato (Filipina). Lekukan, garis dan titik-titik yang membentuk corak daun pada tanaman jenis puring ini terlukis sangat detil dan realistik. Susah mempercayai bahwa lukisan ini menggunakan media cat air. Demikian pula pada lukisan D Tjandra Kirana (Indonesia), “Asak Girls” (2012). Detil warna warni menarik terlihat pada corak kostum para gadis Asak ini.


Di tengah masih rendahnya penghargaan terhadap lukisan cat air, pameran “Asian Watercolour Expression 2012” yang berhasil menyuguhkan sekitar seratus karya dari para seniman berbagai negara ini, sungguh memberi harapan. Sebagaimana diungkapkan Ipong Purnama Sidhi, kurator Bentara Budaya sebagai penyelenggara pameran, pameran ini diharapkan bisa mengangkat pamor lukisan dengan medium berbasis cat air.


Menurut rencana, pameran Asian Watercolur Expression juga akan digelar di beberapa kota di Indonesia, yaitu di Jogjakarta, Solo, dan Bali.

Friday, June 24, 2011

Seni Kontemporer Indonesia: Realitas dan Fantasi


It is really that Indonesian artists have great potency to coloring the world of fine art in international forum. With various culture backgrounds Indonesian artists can produce unique artworks that compromise modern contemporary and traditional arts.

Lagi, karya-karya seniman Indonesia akan diusung ke luar negeri. Kali ini melalui pameran bertajuk Indonesian Eye: Fantasies & Realities, karya-karya dari 18 seniman Indonesia akan digelar di Saatchi Gallery, sebuah galeri yang cukup dikenal dan bergengsi di London, Inggris, 27 Agustus – 9 Oktober 2011. Sebelumnya, empatpuluh satu karya seni berupa lukisan, patung, dan instalasi, dan fotografi tersebut dipajang di Ciputra Artpreneur Center, Jakarta, 9 Juni – 10 Juli 2011.
Para seniman yang karya-karyanya terpilih dalam pameran ini antara lain Heri Dono, Eddie Hara, Eddo Pillu, Haris Purnomo, Agung Mangu Putra, Nindityo Adipurnomo dan Mella Jaarsma. Selain itu juga terpilih karya-karya dari sejumlah artis muda seperti Jompet Kuswidananto, Samsul Arifin, dan Wedhar Riyadi. Di samping lukisan, patung dan instalasi, pameran juag menghadirkan karya fotografi dari Angki Purbandono.
Pemrakarsa pameran, David Cicilitira dari Saatchi Gallery, mengungkapkan, tujuan Indonesian Eye adalah untuk mengenalkan karya-karya artis Indonesia di dunia internasional. Karena itu, selain karya para seniman senior Indonesian Eye juga menampilkan karya-karya para seniman muda yang mempunyai potensi besar untuk berkembang. Indonesian Eye bisa dikatakan sebagai kelanjutan pameran serupa, Korean Eye, yang juga digelar Saatchi Gallery dan sukses memperkenalkan karya-karya artis Korea ke dunia internasional.
Seniman Indonesia dinilai memiliki potensi besar untuk mewarnai dunia seni kontemporer dunia. Dengan latar kebudayaan yang sangat beragam berbasis seni tradisi karya-karya yang diusung dalam pameran kali ini cukup unik. Seperti karya Heri Dono misalnya, mencoba menggambarkan kondisi sosial politik kontemporer dengan memanfaatkan figur-figur dan elemen tradisi khususnya seni wayang. Lihat misalnya karyanya, “Playing Chess” atau “Looking for a Fake President”. Sementara, karya instalasi Jompet Kuswidananto, “War of Java, Do You Remember?” mengingatkan kita akan sejarah kolonialisme di negeri ini. Dibaca dalam konteks masa kini karya Jompet masih relevan mengingat kondisi sosial ekonomi Indonesia yang sesungguhnya masih terjajah dalam hubungan dengan negara-negara maju.
Karya Wedhar Riyadi, “New Neighbour From Outerspace”, mengambarkan dua bocah, yang satu memiliki kepala dan wajah mirip gambaran mahluk angkasa luar, bertukar mainan. Sebuah khayalan menarik yang menurut Wedhar banyak diilhami dunia film di televisi.
Secara umum, sekitar empat puluh karya yang dihadirkan dalam Indonesian Eye menggambarkan fantasi para artis tentang realitas kekinian Indonesia.

English version: Indonesian Contemporary Art: Fantasies and Realities

Monday, June 6, 2011

Dunia Dongeng Irwanto Lentho




Oleh Winarto

With term “The Engraver” Irwanto Lentho wants make differences from term “The Carver”, “The Sculptor” and “The Painter”.

Menyimak karya-karya Irwanto Lentho pertamakali kita akan merasa terhenyak melihat ribuan garis-garis tipis yang melatarbelakangi atau juga menjadi bagian pembentuk figur-figur seperti manusia, gajah, kuda, burung, kereta yang menjadi subyek lukisannya. Pertanyaan yang muncul seketika yaitu, bagaimana sang artis mampu membuat ribuan garis-garis tipis seperti itu. Untuk itu, tentu dibutuhkan ketelatenan luar biasa.

Kekaguman kita akan semakin besar ketika kita mengetahui, bahwa ribuan garis-garis tipis itu bukan hasil sapuan kuas, melainkan hasil guratan pada kayu (hardboard) yang kemudian dikopi-cetak di atas kanvas. Tak bisa dipungkiri, sekitar duapuluh karyanya yang dipajang di Bentara Budaya, Jakarta, 26 Mei – 4 Juni 2011, membuktikan kemampuan paripurna Irwan Lentho dalam penguasaan teknik seni cukil kayu. Tidak salah pula bila ia memilih tajuk “Sang Pencukil” untuk pameran tunggalnya kali ini.

Namun pilihan istilah “Sang Pencukil” bukan hanya merujuk pada tataran kemampuan Irwanto Lentho sebagai seniman lukisan cukil kayu. Dalam catatan kuratorialnya, Aminudin TH Siregar, mengungkapkan, pilihan istilah “Sang Pencukil” menegasikan posisi istilah tersebut dalam wacana sosial. Dengan istilah “Sang Pencukil” (The Engraver) Irwanto ingin membedakannya dari istilah-istilah serupa seperti “Pemahat” (Carver) , “Pematung” (Sculptor) atau “Pelukis” (Painter). Istilah ini menurut Aminudin, merupakan tawaran menarik untuk memperkaya perbendaharaan ungkapan dalam praktik senirupa. Sehingga istilah “Sang Pencukil” di masa mendatang bisa diterapkan bagi mereka yang menggeluti seni grafis cukil kayu.

Di luar masalah teknis, kekuatan karya-karya Irwanto Lentho terlihat pada ide-idenya. Lukisan-lukisan grafis Irwanto menyuguhkan tema-tema yang berkesan ringan, namun sebenarnya cukup memancing kita untuk berkontemplasi. Mencermati karya-karyanya kita seperti memasuki dunia dongeng. Di situ kita bisa bertemu aneka binatang dan tokoh-tokoh manusia yang tampak akrab, bersahabat dan bisa berkomunikasi dengan aneka satwa tersebut.

Seperti membaca cerita dongeng, kita bisa dengan mudah menangkap alur ceritanya, karena cara penuturan yang sederhana dan ringan. Namun, cerita dongeng umumnya sarat akan makna, menggamit pesan-pesan moral dan kebijaksanaan. Begitupun karya-karya Irwanto yang secara sederhana dan ringan melukiskan narasinya, namun sebenarnya sarat makna.

Lihat misalnya, karyanya “Berlomba Untuk Pulang”. Karya dengan ukuran relatif besar (200 cm x 122 cm) ini menggambarkan tiga orang gadis menunggang zebra, berlomba saling kejar dan mendahului. Namun kaki-kaki zebra tampak bertumpu pada roda-roda bergerigi. Mereka “terbang” di atas gedung-gedung. Gambaran ini mengingatkan kita pada realitas kehidupan modern yang serba ingin cepat, saling mendahului, saling mengatasi. Ketiga penunggang zebra yang semuanya perempuan bisa juga dikaitkan dengan isyu-isyu gender.

Karyanya yang lain, “Memaksakan Keinginan”, melukiskan seseorang mengenakan perlengkapan mirip pilot pesawat, sedang menunggang seekor burung. Sang burung kelihatan sangat berat, dengan perutnya yang luar biasa besar dibanding sayapnya yang pendek. Sementara paruhnya menjepit seekor ikan emas. Beberapa helai bulunya rontok. Sang “pilot” tampak membawa “kitiran” atau baling-baling dari kertas. Membaca karya ini kita dibawa ke permenungan tentang ambisi dan keserakahan yang tak jarang menghinggapi sebagian dari kita, yang selalu menginginkan sesuatu melebihi kemampuan kita untuk mewujudkannya.

Sementara dalam karyanya “Belajar Kasih Sayang” Irwanto mengajak kita meneladani sikap melindungi dan mengasihi satwa kanguru dengan kantung di perutnya.

Irwanto Lentho lahir di Sukharjo, Jawa Tengah, 4 April 1979. Sejumlah penghargaan telah diraihnya antara lain Finalis Philip Moris Art Awards 2001, Finalis Trienal Seni Grafis II Indonesia 2006, Karya Terbaik ke-2 Trienal Seni Grafis Indonesia III 2009. Puluhan pameran karya-karyanya telah digelar di berbagai kota di Indonesia dan di luar negeri.

Pameran tunggal “Sang Pencukil” menurut jadwal juga akan diusung di Bentara Budaya Bali, Bentara Budaya Jogja, dan Balai Sujatmoko Solo, dalam bulan Juli dan Agustus mendatang.