Sunday, April 7, 2013

Menikmati Lukisan Huang Fong tentang Bali

Oleh Winarto


Lukisan Huang Fong, "Dua Dara di Sawah".

Melihat lukisan-lukisan Huang Fong kita akan terbawa dalam suasana kehidupan Bali yang teduh, tenang, dan damai. Pelukis kelahiran Banyuwangi, Jawa Timur ini, pada bulan April tahun ini berusia 77 tahun dan telah menekuni seni lukis selama sekitar limapuluh tahun. Selama kurun waktu itu tema lukisan-lukisannya tidak berubah yakni menyangkut kehidupan sehari-hari masyarakat Bali.

Menandai ulang tahunnya kali ini, ia menggelar pameran tunggal di Galeri Nasional dengan tajuk “Pikiran, Tubuh dan Jiwa: 77 Tahun Huang Fong”. Sebanyak 77 lukisannya dihadirkan di sini, semuanya tentang Bali.

Bali telah menjadi bagian dari hidup Huang Fong. Ia pertamakali menapakkan kaki di Bali tahun 1963 dan mulai menetap di pulau Dewata itu tahun 1967. Fong mengaku jatuh cinta pada Bali karena melihat masyarakatnya rukun, toleran dan kaya akan budaya.

Ia juga merasa beruntung bertemu seniman-seniman besar di Bali seperti OH Supono, Anton Huang, Abdul Azis, dan Tedja Suminar dan Ida Bagus Made Poleng. Ia juga cukup dekat dengan Affandi dan Hendra Gunawan.

“Saya belajar dari mereka tentang sikap yang fokus,” tuturnya pada kritikus seni lukis Agus Dermawan.

Bali dalam lukisan-lukisan Huang Fong adalah Bali yang bersajahaja, yang teduh, tenang dan damai. Bali yang jauh dari hiruk pikuk modernitas dan berbagai problem sosial, ekonomi dan politik. Agus Dermawan dengan terus terang mengatakan lukisan-lukisan Huang Fong membawa spirit Mooi Indie yang menggambarkan Hindia Belanda yang serba cantik dan menawan.

Dalam pameran kali ini kita saksikan lukisan-lukisan Fong dengan objek cukup beragam namun semuanya tentang Bali. Kebanyakan berupa lukisan potret perempuan dalam berbagai pose dengan pakaian tradisional Bali dan telanjang dada – kebiasaan yang saat ini sudah sangat jarang ditemui di Bali.

Lukisan Huang Fong, "Dua Gadis Metik Bunga Tanjung"
Lainnya berupa gambar aktivitas masyarakat – kebanyakan juga aktivitas perempuan – seperti berjualan dan berbelanja di pasar, menggembala ternak dan panen padi di sawah, berdagang ikan pantai dan bersembahyang pura. Beberapa lukisannya yang menggambarkan aktivitas laki-laki antara lain tari Barong dan tari Kecak. Ia juga  membuat beberapa lukisan potret pelukis tradisonal Bali yang cukup terkenal, Ida Bagus Made Poleng. Agaknya Huang Fong cukup dekat dengan Made Poleng.

                                                                                                            Cat Air di Kanvas

Selain tema lukisannya tentang Bali, yang tidak berubah pada lukisan-lukisan Huang Fong yaitu penggunaan medium cat air di atas kanvas. Penggunaan medium cat air di atas kanvas ini bisa dikatakan meruypakan ciri khas Huang Fong. Kecintaannya pada cat air dipengartuhi latar belakang kehidupannya saat ia bekerja di sebuah studio foto. Tugasnya waktu itu adalah mewarnai foto-foto hitam putih.

“Saat itu belum ada foto warna. Semuanya hitam putih. Di sini saya belajar mengenai bayangan, tekstur kulit manusia dan karakter benda-benda. Kenangan hitam-putih itu terus menempel dalam persepsi, sehingga mempengaruhi warna-warna monokromatiik lukisan saya dalam sebuah periode panjang. Hal itu juga menyebabkan saya cinta kepada cat air,” ungkapnya.

Lukisan cat air biasanya berjodoh dengan kertas. Namun Huang Fong berhasil mempertemukan cat air dengan kanvas. “Saya bekerja keras dengan teknik dan material ini,” jelas Fong. Hasil ketekunanya pun berbuah. Lukisan-lukisannya dengan media cat air di atas kanvas diakui banyak pengamat sangat berhasil dan tak beda dari lukisan cat air di atas kertas.

            Huang Fong lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, pada 14 April 1936. Belajar melukis dari sejumlah seniman, tanpa melalui pendidikan formal seni lukis. Selama karirnya ia telah menggelar pameran puluhan kali di dalam dan luar negeri. Pameran di Galeri Nasional Jakarta berlangsung dari tanggal 1-7 April 2013.

Thursday, March 21, 2013

Pameran Lukisan Aris Budiono



Perang Suci Seni Melawan Korupsi

Oleh Winarto

 

"Hanoman Samurai" lukisan karya Aris Budiono
ARIS Budiono Sadjad  benar-benar murka. Pelukis kelahiran Brebes, Jawa Tengah, 1960 ini marah luar biasa menyaksikan membuncahnya kasus-kasus korupsi di tanah air. Perilaku korup di negeri  ini sudah mirip sel kanker yang merayapi hampir seluruh bagian tubuh bangsa ini. Karena itu perlawanan terhadap korupsi haruslah total untuk bisa mengangkat hingga akar sel-sel yang mematikan itu. Perang melawan korupsi tak lain dari tindakan jihad: sebuah perang suci!

Pemikiran seperti itulah yang tampaknya mendasari perupa lulusan Sekolah Tinggi Senirupa Jogjakarta ini yang  menggelar pameran tunggalnya dengan judul “Perang Suci Melawan Korupsi”.  Pameran berlangsung  di Bentara Budaya Jakarta tanggal 14-23 Maret 2013.
                  
Sekitar duapuluh buah lukisannya menunjukkan amarah Aris yang meluap-luap terhadap korupsi. Ia menggambarkan para koruptor dengan metafor berupa babi yang kita kenal sebagai binatang rakus dan kotor.

Babi Versus Ksatria

"Bima Banting" lukisan karya Aris Budiono
Ia menggambarkan babi dalam wujudnya yang utuh sebagai binatang maupun dalam sosok-sosok bertubuh manusia dengan kepala babi. Ia juga mengambil  tokoh-tokoh dari dunia pewayangan untuk melakukan aksi perang suci melawan korupsi. Jadinya, sangat menarik: para ksatria dunia pewayangan seperti Bima dan Hanoman bertempur melawan sosok-sosok tambun berwujud babi atau manusia berwajah babi.

Lukisannya yang berjudul “Hanoman  Storm Fury” misalnya, menggambarkan bagaimana ksatria berwujud seekor kera putih itu menghajar beberapa ekor babi dengan pukulan halilintarnya yang maha dahsyat. Terasa sekali, betapa sang pelukis ingin menunjukkan kegeraman tak tertahan terhadap para koruptor. Sedangkan lukisannya “Hanoman Samurai” menggambarkan Hanoman mencabik perut seekor babi dengan sebilah samurai.

Hanoman yang dalam pewayangan merupakan pahlawan besar yang mampu mengalahkan raksasa berkepala sepuluh (Dasamuka) dalam lukisan-lukisan Aris benar-benar didudukkan sebagai sang eksekutor terhadap perilaku korup. Lukisannya yang lain berjudul “Hanoman Punishment menunjukkan sosok Hanoman memegang senjata laras panjang siap mengeksekusi sosok-sosok berwajah raksasa simbol angkara murka.

Selain Hanoman, Aris menampilkan kstaria Pandawa yaitu Bima yang juga dilukiskan sebagai sang esksekutor. Dalam karyanya “Bima Banting” digambarkan Bima membanting seekor babi. Dari mulut babi yang terjungkal keluar berbagai barang yang sebelumnya ditelannya seperti mobil, motor,  kapal dan property. Nafsu serakah dan rakus sang babi yang menelan apa saja juga dia gambarkan dalam karyanya “Omnivora”.  

Aris benar-benar sedang mengamuk. Ia tidak bisa menyembunyikan rasa amarahnya terhadap korupsi. Namun sikap amuknya itu sekaligus juga menunjukkan kegelisahan dan sedikit putus asa. Hal itu tergambar antara lain dalam karyanya “Super Sakti” yang melukiskan sosok manusia bertampang babi duduk sambil berkacak pinggang mengendari seekor babi. Ia tanpa rasa takut menghadapi serbuan anak panah dari para ksatria. Lukisan ini mengingatkan kita pada sejumlah kasus korupsi besar yang tidak pernah berhasil diungkap tuntas oleh lembaga-lembaga penegak hukum termasuk KPK.

"Empat Cakil Rakyat" lukisan karya Aris Budiono
Beberapa lukisan lainnya bernada satir. Lihat misalnya  karyanya  “Empat Cakil Rakyat” yang memperlihatkan empat sosok berwajah raksasa yang dalam pewayangan disebut “Buto Cakil” mengendarai empat ekor babi. Di latar belakang tampak bangunan gedung-gedung tinggi. Judul lukisan ini yang menggunakan kata “Cakil Rakyat” mendorong kita mengingat kata yang mirip yaitu “Wakil Rakyat”. Agaknya Aris Budiono memang sengaja ingin menyindir para wakil rakyat yang sebagian anggotanya berperilaku seperti “Buto Cakil” yang haus kekuasaan dan harta.

Seni sebagai kritik sosial

Sebagai media hiburan, seni sekaligus juga bisa menjadi sarana kritik sosial, bahkan medan perjuangan melawan  kekuasaaan yang menindas atau korup. Sejarah seni di tanah air menunjukkan keterlibatan intens para seniman di berbagai bidang dalam perjuangan melawan politik korup. Di bidang sastra kita memiliki Rendra yang dengan puisi-puisinya serta pentas teaternya sempat membuat keder rezim otoritarian Orde Baru. Juga kita kenal beberapa kelompok teater lain seperti Gandrik, Gapit dan Koma yang tanpa lelah mengusung tema-tema perlawanan terhadap kekuasaan. Di bidang musik kita dapati sosok Iwan Fals dengan lirik-lirik lagunya yang sarat kritik sosial.

Seni lukis pun potensial untuk menjadi medium kritik sosial dan politik. Peran inilah yang secara sadar dilakoni oleh Aris Budiono.

Tindakan korupsi yang kini merajalela di tanah air sudah mengancam eksistensi bangsa, mempengaruhi hidup matinya negeri ini. Perlawanan terhadap korupsi karenanya juga merupakan perlawanan hidup atau mati. Perlawanan yang perlu melibatkan banyak pihak melalui berbagai sarana dan media, tak terkecuali media seni termasuk seni lukis.